SMP Islam Al-Azhar 9 Kemang Pratama

Aplikasi yang bisa diakses online 24 jam full oleh orang tua, siswa, guru & tata usaha.

PANTASKAH KITA MENJADI GURU

 PANTASKAH KITA MENJADI GURU

 

Di awal tahun pelajaran 2019/2020 ini, kami mengajak kepada para tenaga pendidik (guru) untuk melakukan muhasabah/instropeksi guna perbaikan dunia pendidikan kita kedepannya. Muhasabah menjadi sangat penting sebelum kita menyalahkan siapa-siapa. Seperti perkataan sahabat Umar bin Khathab ra, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang karena lebih mudah bagi kalian menghisab diri kalian hari ini daripada besok (hari kiamat)".

Dalam muhasabah atau renungan itu, tanyakan pada diri kita “Pantaskah Kita Menjadi Guru?”Tentu yang bisa menilai kita pantas atau tidak menjadi guru, adalah murid-murid kita tercinta. Jika kehadiran kita di rindukan berarti kita  pantas menjadi guru, namun jika kehadiran kita di gelisahkan murid, maka kita harus memantaskan dulu untuk menjadi guru yang baik.

Bapak pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara, sebelumnya juga telah menitipkan tiga pesan yang dapat dijadikan bahan muhasabah untuk para tenaga pendidik, yaitu ; 

Pertama, Ing ngarso sung tulodo, Jika berada di depan muridnya, seorang guru harus menjadi contoh yang baik. Sudahkah kita sebagai guru menjadi uswah hasanah (contoh yang baik) bagi murid-murid kita?. Baik dalam lisan, sikap dan tingkah laku. Bukan sekedar teori di depan kelas. Sebagai mana pepatah mengatakan “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Mencerminkan bahwa seorang guru harus menjadi teladan yang baik. Jika guru itu  memberikan teladan yang baik kepada anak didiknya maka secara tidak langsung anak didik akan menirukan apa yang dilakukan oleh gurunya, begitu juga sebaliknya, jika guru itu memberikan contoh yang buruk maka anak didiknya pun akan berbuat buruk juga, bahkan lebih buruk. Dalam Al Quran  Allah pun mengancam bagi mereka yang memerintahkan kebaikan namun tidak mengerjakannya. 

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3) 

Pesan yang kedua adalah "Ing madyo mangun karso", Seorang pendidik harus memberikan gambaran dalam mengembangkan bakat murid-muridnya. Menuntun anak didiknya dan memberi tahu kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi dalam menuntut ilmu, bahkan mengarahkannya untuk tidak mempelajari sesuatu jika sang pendidik mengetahui bahwa potensi anak didiknya tidak sesuai dengan bidang ilmu yang akan dipelajarinya. 

Sedangkan pesan ketiga yakni "Tut wuri handayani", jika berada di belakang maka jadilah pemberi semangat juang bagi murid kita. Seorang guru harus jadi benteng terakhir bagi muridnya yang tidak pernah kehabisan kata motivasi yang menginspirasi. Harus jadi sandaran yang kokoh sebagai charge kembali ketika batrei semangat belajar muridnya mulai lemah. Seperti kata pesan Horace Mann “Seorang guru yang berusaha mengajarkan tanpa menginspirasi muridnya dengan keinginan untuk belajar adalah seperti memalu besi dingin”.

Pada akhirnya, di awal tahun pelajaran 2019/2020, kepada bapak ibu guru- para pendidik mari kita pantaskan diri kita untuk menjadi pendidik dengan cara menjaga akhlak, memberikan teladan dan terus belajar.Jangan mencoba untuk memperbaiki murid atau siswa kita,  perbaiki diri kita sendiri terlebih dahulu. Guru yang baik membuat murid yang jahat menjadi baik dan menjadikan murid yang baik menjadi unggul. Ketika murid-murid kita gagal, berarti kita juga telah gagal menjadi seorang guru. Selamat bermuhasabah diri (abinurhadi@gmail.com).